Swing Partner

  • Whatsapp
Swing Partner


Bertukar pasangan memang variasi seks yang tidak lazim. Meski begitu, banyak masyarakat kelas menengah yang mengadopsi gaya bercinta dari Eropa ini. Pelakunya memahami seks dan cinta merupakan dua hal yang berbeda.

Bacaan Lainnya

 

***

SecurityExpose.com —  Swing adalah tarian dari Amerika Latin. Dansa yang mirip salsa ini ditarikan secara berpasang-pasangan dan setiap beberapa waktu sekali para penari saling bertukaran pasangan.

Dari dansa swing ini muncullah swinging sex di Amerika, lalu menyeberang ke Eropa, dan akhirnya menyebar ke seluruh dunia.

Swinging sex dimulai dari berkumpulnya beberapa pasangan suami istri di suatu tempat.

Lantas, para suami membuat semacam permainan yang hadiahnya berupa kunci kamar berikut isinya, yaitu istri dari pria lain yang datang ke acara itu.

Pada 1980-an, swinging sex mengalami perkembangan pesat dengan terbentuknya berbagai swinging club.

Pada dasarnya, seks tukar pasangan terbagi menjadi soft swinging dan hard (core) swinging. Soft swinging biasanya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.

Dalam berhubungan seks, para swinger melakukannya secara sendiri-sendiri dan di tempat yang berbeda-beda pula, lebih mirip dengan apa yang kita kenal sebagai tukar kunci.

Sedangkan hard (core) swinging cenderung lebih vulgar. Karena, para pelaku saling bertukar pasangan secara langsung, dan melakukan hubungan seks secara bersama-sama, serta di ruangan yang sama pula.

“Hampir sama dengan pesta seks. Tapi, jika pesta seks dilakukan dengan pasangan dari mana saja (bukan pasangan tetap, melainkan wanita-wanita yang dapat dicomot dari mana pun),  dalam hard (core) swinging sebaliknya,” kata seorang pakar seks kondang itu.

Menurut sang pakar, perubahan dari soft swinging ke hard swinging terjadi sekitar tahun 1995-1996. Kemungkinan tumbuh karena adanya kejenuhan, sehingga timbul keinginan untuk melakukan variasi lain yang lebih menyenangkan.

Ngapain jauh-jauh dan main sendirian, mending main bareng-bareng. Lo, kok, enak, ya, di-terusin. Mungkin begitu dulu pertimbangannya,” kata dokter itu.

Dari pandangan seksologi, di luar kaidah agama dan norma-norma kemasyarakatan, trend ini merupakan salah satu variasi dalam berhubungan seksual.

“Tidak peduli, apakah para pelakunya melakukan aktivitas ini untuk menghindari kejenuhan dalam berhubungan intim, untuk menambah variasi dalam berhubungan badan, atau untuk mengembangkan fantasi seksual mereka,” ucapnya.

Apakah ini sebuah kelainan seks?

Menurut si dokter, hal ini masih harus dilihat lebih dalam lagi. Karena, kelainan seks biasanya berhubungan dengan gangguan kejiwaan.

Menurut para seksolog, variasi seksual diartikan sebagai aktivitas seksual yang dilakukan sekali-sekali.

Jika variasi seksual itu lalu dilakukan secara terus-menerus, bahkan hingga yang bersangkutan merasa kecanduan (addicted), ini bisa dikatakan penyimpangan atau kelainan. “Jadi, cobalah lihat kasus per kasus,” tuturnya, menjelaskan.

Dari segi seksologi, swinging sex juga merupakan variasi seksual yang wajar. Karena, ini pengejawantahan fantasi para pelakunya.

Kepuasan yang didapat para swinger itu sama dengan kepuasan yang diperoleh kala mereka berhubungan seks dengan pasangan mereka.

“Lupakanlah urusan cinta meski memang unsur psikologis juga turut berperan di sini. Tapi, itu bukan cinta. Tertarik dengan lawan jenis dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan dalam situasi bagaimanapun. Rasa tertarik ini dapat berkembang ke hubungan yang lebih dalam lagi (berhubungan seks, red). Dengan kata lain, untuk berhubungan seks tidak harus dimulai dengan tumbuhnya rasa cinta dulu, kan,” ujar dokter seks.

“Memang dalam berhubungan seks, pria to the point, sedangkan wanita harus dimulai dengan segala kelembutan, romantisme, dan cumbuan khusus. Jadi, walau tidak ada cinta asalkan faktor-faktor tadi ada, perempuan tetap akan memperoleh kepuasan dalam berhubungan seksual,” katanya dengan nada yakin.

Dilihat dari kacamata seksologi, swinging sex memunyai unsur positif. Karena, dengan swinging sex, para swinger dapat mengembangkan fantasi-fantasi seksual mereka. Apalagi, biasanya para anggota swinging club memunyai fantasi seksual dan tujuan yang sama.

Misalnya, mereka suka melakukan hubungan seksual dengan cara-cara kasar atau di alam bebas. Tidak ada rasa takut melakukan hubungan seksual seperti yang mereka inginkan, akan memberi mereka kepuasan lebih dari yang mereka harapkan. Unsur negatifnya? “Tidak akan pernah ada, jika semua aturan dalam swinging club diikuti dengan baik,” masih kata dokter seks.

Swinging club kini ada di hampir semua negara bagian di Amerika Serikat. Di Indonesia mereka memiliki situs sendiri, coba anda kunjungi www.indoswinger.com.

Masing-masing klub menetapkan aturan yang berbeda untuk para anggotanya. Ambil contoh, ada swinging club yang mengharuskan calon anggotanya merupakan pasangan tetap, tapi ada juga swinging club yang menetapkan anggotanya pasangan yang menikah dengan menunjukkan surat nikah mereka.

Dari segi kesehatan, para swinger member ini harus memunyai kartu identitas yang menunjukkan bebas dari segala macam penyakit atau sebelum masuk menjadi anggotanya harus melakukan medical check up.

Lebih dari itu semua, aturan yang biasanya diberlakukan kepada para swinger adalah tidak diperbolehkannya memasukkan unsur hati (perasaan). “Tidak ada ceritanya, si istri jatuh hati pada suami pasangan lain,” katanya. Selain itu, juga unsur keterbukaan dan fokus hanya mencari variasi berhubungan seksual.

Di Indonesia, tidak semua aturan seperti tersebut di atas sudah diberlakukan, meski swinging club di negara ini juga mengalami perkembangan pesat sekitar tahun 1997.

Dari pengamatan si dokter, pada awalnya swinging club dibentuk oleh para eksekutif dari kalangan tertentu, seperti lawyer, bankir, dan sebagainya. Kelompok-kelompok eksklusif ini menyewa beberapa kamar hotel, kapal pesiar, atau rumah, dan biasanya pasangan tetap mereka (tapi bukan istri) merupakan wanita-wanita asing.

Dalam perkembangannya, swinging club tidak hanya menjamur di kalangan the have, tetapi juga muncul di kalangan masyarakat kelas menengah, bahkan di kalangan masyarakat bawah, seperti para buruh pabrik dan karyawan rendahan. “Rata-rata swinging sex yang dilakukan para swinger itu hard (core) swinging,” ucapnya.

Ferryal Loetan menyimpulkan, secara seksologi, swinging sex adalah variasi dalam berhubungan seks yang bisa dijalankan. “Tapi, jangan pernah mengatakan hal ini aktivitas seks yang normal dan wajar. Karena, kewajaran memiliki persepsi yang berbeda-beda pada setiap orang,” tambahnya.

Swinging sex, Ferryal menambahkan, bukan kelainan seks atau aktivitas seks yang tabu. “Selain itu, pisahkan swinging sex dengan cinta,” katanya. Lebih dari itu semua, swinging sex membutuhkan keterbukaan, kerelaan, dan keberanian menanggung risiko yang mungkin terjadi.

 



Sumber Berita

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *