Madu & Racun Cybersex

  • Whatsapp
Madu & Racun Cybersex


Kegemaran ini setidaknya dapat mengerem keinginan “jajan” yang berisiko penyakit kelamin. Tak perlu kontak fisiklewat vagina, anal, atau pun oral, namun nikmatnya sungguh “nyata”.

Bacaan Lainnya

Bukan bicara seks seutuhnya, tapi cybersex.

Sama halnya pemanasan sebelum bercinta, seks siber (jika di Indonesiakan) hanya suatu bentuk outercourse dalam seks seperti pijatan, rabaan, atau “memainkan” sex toys.

Cukup tekan tuts keyboard, lalu mainkan sejuta kenikmatan.  Memang, seks siber atau seks dunia maya bukan barang baru bagi sebagian kalangan.

Sejak ditemukan internet di awal 90-an, kaum gay lebih dulu menjadikannya sebagai ajang mencari teman kencan secara diam-diam.

Kini, meskipun porsinya belum berimbang antara laki-laki dan perempuan, penggemar cybersex makin bertambah.

Konon, seiring pesatnya fitur-fiturteknologi internet itu sendiri.  Hasil penelitian David Greenfield, seorang psikolog asal Amerika Serikat pada 2003, misalnya.

Dalam laporannya di situs ABCNEWS.com dia mengatakan, profil para pecandu cybersex adalah lelaki dengan rentang usia antara 25 dan 55 tahun.

Umumnya, mereka bertitel dan punya penghasilan tinggi.  Survei lain dipaparkan Greenfield pada tahun lalu. Di situ, ditemukan  angka yang klop: 86% peselancar pria di negaranya tertarik terhadap online sex.

“Delapan persen di antaranya bahkan menghabiskan waktu 11 jam seminggu hanya untuk melongok situs-situs porno,” kata Greenfield.

Apakah pesatnya partisipasi pada situs porno versi Greenfield itu cukup beralasan? Mari kita hubungkan dengan laporan terakhir Nielsen/NetRating, sebuah lembaga analisis teknologi dan informasi yang bermarkas di New York.

Mereka menyebutkan, seperempat pekerjaan utama pengguna internet umumnya hanyalah menjelajah situs ’esek-esek’ dan cari jodoh terpopulerseperti AdultFriendFinder.com, Singles Christian Network, www.Match.com, www.jdate.com,www.eharmony.com, dan seterusnya.

Ada lagi satu temuan mereka yang mungkin bisa membuat kita terperangah.

Mereka menyebutkan, situs porno memegang pasar terbesar dari aktivitas e-commerce setelah berhasil mencetak pendapatan hingga US$,7 miliar per tahun.

Jumlah sebesar itu bisa dikatakan lebih dari delapan kali lipat angka belanja pada kategori fitur internet populer lainnya seperti online games.  Namun, soal pria menjadi pecandu tergila dalam cybersex perlu dikoreksi lagi.

Data Nielsen/NetRatings pada Oktober dua tahun silam itu juga menunjukkan, 30% pengunjung situs porno justru disumbangkan oleh kaum perempuan.

***

“Ada manfaat dan mudaratnya, sayangnya di sini belum ada penelitian lengkap seperti itu,” ujar seksolog muda dr. Hesta Meriansyah.

Dia mengatakan, pria penggemar cybersex setidaknya dapat mengerem keinginan “jajan” yang berisiko penyakit kelamin.

Buat mereka, seks siber merupakan akses termudah, tercepat, dan lebih memuaskan gebu hasrat seksualnya tanpa harus takut penyakit.

“Tidak ada pria yang bisa mencegah dirinya memanfaatkan efek percepatan teknologi ini sebagai alat mencapai kepuasan seksual,” imbuh Hesta yang akrab disapa dr. Ryan ini.

Kecanduan internet seakan cara “mencari perlindungan dengan membebaskan diri dari kenyataan”. Mereka seolah lebih hidup di dunia tanpa batas.

Memang, ada perbedaan mencolok antara pria dan wanita. Pria terangsang oleh stimulus visual atau pengamatan. Tetapi, perempuan oleh stimulus pendengaran.

“Percayalah, perempuan lebih suka dirayu daripadadiperlihatkan sosok lelaki telanjang,” ungkap Ryan. Padahal kita tahu, di internet sangat gampang menjumpai gambar-gambar erotis daripada tulisan jorok.

***

Benarkah, Disfungsi komunikasi menjadi penyebab pria lari ke cybersex.

Alasannya aman, sebab tidak perlu kontak fisik lewat vagina, anal, atau pun oral, namun nikmatnya sungguh “nyata”.

Karena, ketimbang melihat film porno atau gambar bugil, masing-masing “partner” dalam sesi rotari (chatting beramai-ramai) serasa terlibat langsung dengan semua yang terpampang di layar monitor.

Pria memang mudah terangsang hanya lewat stimulus visual atau pengamatan.

Lain halnya perempuan, mereka lebih senang dengan stimulus pendengaran.

Nah, simak beberapa tip di bawah supaya Anda bisa asyik menikmati cybersex dengan nyaman dan tanpa harus terjerumus ke jurang perselingkuhan.

-Banyak layanan chat seperti instant messaging, IRC chat, online dating services , chat rooms, message boards, dan e-mail.

-Jika punya seorang pasangan tetap, atur tujuan atau net yang akan Anda gunakan untuk memadu cinta.

-Jika lebih suka fantacy sharring dengan rotari, jangan gunakan satu nick name.

Tak lain, agar Anda tidak dikecoh lawan bicara jika kebetulan seringbertemu di “room” yang sama.

-Jangan pernah menyebutkan informasi yang menyerempet persis data diri Anda di dunia nyata.

-Hindari kopi darat untuk menjalin hubungan nyata dengan seorang wanita di dunia maya. Anda tak mau dianggap berselingkuh oleh istri atau pacar, bukan?

-Penggunaan mikrofon akan membuat teman kencan chatting mendengar semangat Anda, sebaliknya Anda pun menikmati desah rayuannya.

-Ada tidaknya mikrofon, Anda harus kreatif mengolah bahasa. Pakai imajinasi, sebab dialah kunci keberhasilan seseorang bermain cinta di dunia maya.

-“Kita akan menyusuri pantai dan menikmati matahari, biarkan aku mengamati tubuhmu yang basah dipermainkan ombak”. Contoh kalimat sopan ini banyak disukai wanita. Tetapi, beberapa di antara mereka pun menyukai bahasa yang kasar dan cenderung vulgar untuk menggiringnya ke alam fantasi.

-Jangan menulis kata berbunyi rangsangan, jika Anda tidak punya mikrofon. Misalnya, “Oh yes, oh no, oh yeah..…”. Anda hanya akan jadi pembual karena tidak bisa membuktikan situasi yang Anda hadapi.

-Awali dengan bertanya soal pakaiannya hari itu dan sebaliknya. Jika tanpa kamera, Anda bebas mendeskripsikan diri Anda sesuka hati.

-Pancing partner Anda memulai fantasinya. Tanyakan warna celana dalamnya. Atau, apa yang bisa Anda lakukan untuk membuatnya terangsang saat ini?

-Gairah tetap bisa bangkit tanpa harus melihat. Jadi, ceritakan semua yang Anda lakukan dalam fantasi saat ini!  –

Kali pertama mungkin terasa konyol beronani di depan komputer. Namun, anggapan itu sirna seketika setelah sadar ada yang “menonton” Anda. Jadikan ini sebagai pengalaman paling menakjubkan!

-Di saat bosan melakukan onani dengan satu tangan, sementara tangan lain menekan tuts keyboard, minta dia menulis imajinasinya. Ini trik untuk Anda yang tidak memiliki kamera dan mikrofon.

-Curahkan seluruh obrolan ke dalam sebuah adegan. Masukkan fantasi itu ke alam khayal Anda. Jika Anda mencapai klimaks, lakukan giliran Anda dan tuntun dia mencapai kepuasan.

-Anda tidak ingin berfantasi seks dengan seorang pria, bukan? Pergilah dan lengkapi komputer Anda dengan mikrofon dan webcam sekaligus.  Nah, mulai sekarang, jangan jauh-jauh dari tuts keyboard Anda. Belajarlah jadi “orang lain”, dan nikmati petualangan ini di dunia maya!

***

Imajinasi Kreatif: Sebagian pria beristri beralasan, bercinta dengan “wanita lain” (WL) di dunia maya bisa menjadi cara untuk menjaga keharmonisan seks dengan pasangannya. Tidak secara langsung, tentu.

Seks siberpintar memancing banyak ide yang selama ini tertahan setiap kali pria akan bercinta dengan pasangannya.

“Bersama pasangan chatting saya bebas berbincang dan meminta hal-hal yang selama ini sulit dilontarkan di rumah,” ujar Andre Sihasale, Managing Director sebuah event organizer.

Ambil contoh soal keinginannya agar sang istri mau memakai lingerie.  Kali lain, pernah juga dia berniat melakukan three some atau mencoba teknik bercinta seperti doggy style.

“Tapi, semuanya hanya bisa dilontarkan pada WL saya, bukan istri,” ungkap Andre, 36 tahun.

Efeknya belum parah, tetapi perlahan bisa menjurus serius. Andre takut kesengsem betulan dan selingkuh dengan WL. “Karena, semangat menggebu itu selalu datang setelah chatting dengannya,” ujar Andre.

Lain hal dengan Djody Setiawan, sebutlah begitu namanya.

Cybersex buat pria lajang dan sibuk ini hanya pelarian setelah jenuh berlama-lama di depan komputer. Ini yang membuatnya datang tidak pernah terlambat danselalu bersaing dengan satpam ketika kantor bubar.

“Rotari paling seru selalu terjadi sore hari menjelang kantor tutup, saya bisa chatting sambil onani,” ujar supervisor di perusahaan desain interior ini.

Rotari atau chatting beramai-ramai di satu ruangan memang kegemaranDjody.  Pria itu memakai fasilitas web camera.

Djody tidak hanya bisa berbincang dengan dua atau tiga perempuan rekan obrolan elektroniknya di Yahoo Messenger.

Dia pun bisa menikmati aksi cabul mereka di layar monitor. “Apalagi, kalau mendengar desah mereka di mikrofon, pusing kalautidak sambil onani,” ujarnya, menjelaskan.

Tak sampai di situ. Pagi hari adalah waktunya dia berkirim e-mail dengan pasangan rotarinya. Kalau kebetulan mereka online, kami juga chatting selama setengah jam,” tutur Djody, panjang lebar.

Begitulah. Berselancar ke situs-situs lain pun kadang dia lakukan, baik situs dalam maupun luar negeri. Jika beruntung, dia bisa dapat WL baru dari situs pertemanan seperti Friendster atau mailing list di grup Yahoo.

Chatting pagi biasanya untuk bikin janji online pada jam makan siang,” ucap Djody.

Masih dalam kaitan itu, Djody mengatakan, hadirnya web camera dan mikrofon membuat percintaan lewat chatting terasa lebih “nyata”.

Djody dan partner-nya dapat saling “memperlihatkan” diri sambil memainkan alat genitalnya untuk memancing imajinasi. “Satu jam waktu makan siang kadang masih kurang puas,” ungkapnya.

****

sumber: majalah Matra

 



Sumber Berita

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *