Bagaimana drone menaklukkan pertahanan udara ? – SecurityExpose.com

  • Whatsapp
Product Gallery 825X515 Harop 03


Bagaimana drone menaklukkan pertahanan udara ?- Hobbymiliter.com. Bidang Pertahanan udara dewasa ini memiliki sebuah pertanyaan,  utamanya setelah perang Suriah, Libya, serangan drone AS di Iraq dan tentunya konflik baru-baru ini yaitu konflik Nagorno-Karabakh.Utamanya ya bagaimana sebuah drone itu menaklukkan pertahanan udara

Bacaan Lainnya

Dalam artikel singkat ini akan dibahas beberapa faktor, ya nggak banyak-banyak amat. Cukup yang umum saja.

Terbang sangat rendah.

Batas cakrawala radar yang dapat dimanfaatkan drone

Bahwa bumi kita yang bulat, memiliki sifat yang dapat dimanfaatkan oleh sebuah drone atau pesawat pada umumnya dalam menjalankan misinya yaitu cakrawala atau radar horizon. Sifat ini menjadi salah satu momok utama daripada radar atau sensor yang berbasis darat.  Drone atau benda terbang lain yang terbang sangat rendah akan lebih sulit di deteksi daripada yang terbang tinggi.

Bahwa faktor cakrawala sendiri juga bukan hanya satu-satunya alasan untuk terbang rendah, faktor lain yang “membantu” misi drone melawan pertahanan udara dengan terbang rendah adalah clutter.

Clutter di radar pertahanan udara atau sensor lain.

Clutter sendiri itu merupakan objek yang tidak diinginkan namun tetap muncul di layar radar karena ia berada di lokasi yang sama dengan yang sedang “disapu” oleh radar. contoh daripada clutter ini utamanya untuk radar militer adalah tanah, pegunungan, kota dan burung.

Kenapa clutter ini bisa ikut muncul ? Apakah tidak bisa pancaran radar itu difokuskan sehingga bagian yang ada clutternya ini tidak tersorot ? jawabannya adalah sangat sulit.

dalam dunia antena kita mengenal pola pancar/radiasi atau kalau mencari di mbah gugel adalah “antenna radiation pattern” Kita dapat melihat bahwa antena ini ya sebenarnya memancarkan gelombang elektromagnetik ke segala arah juga.

sidelobe dan mainlobe
Balok antena, ada sidelobe dan mainlobe

Pancaran radar yang “terkuat” dan menunjuk ke arah yang diinginkan disebut mainlobe, sedangkan pancaran yang menunjuk selain dari arah yang kita inginkan disebut “Sidelobe”.

Baik sidelobe maupun mainlobe ini adalah dapat menjadi sumber clutter (sidelobe clutter atau mainlobe clutter) Baik pada radar pertahanan udara namun juga radar secara umum. Dengan terbang rendah maka drone akan dapat “memaksa” radar untuk terpapar mainlobe atau sidelobe clutter karena mau tidak mau pasti pancaran radar akan “mengenai” tanah. Daya jangkau jelas berkurang karena radar pertahanan udara harus memfilter semua pantulan balik yang ia terima.

Multipath Propagation/ perambatan gelombang dari berbagai jalur

Bahwa selain clutter, ada fenomena lain yang dapat menganggu sensor utamanya radar pertahanan udara dengan jenis penjejak sasaran (Tracking radar) Yaitu Multipath propagation.

Multipath propagation adalah suatu fenomena yang disebabkan oleh “perjalanan” gelombang radar yang dipantulkan atau dihamburkan objek yang terpapar.  Pada fenomena ini gelombang yang dipantulkan akan saling “bertabrakan” satu-sama lain, dengan intensitas bergantung daripada konstanta dielektrik tanah atau air yang dilewati.

1920px-Multipath_propagation_diagram_en.svg
Illustrasi efek Multipath propagation pada radar (wikipedia)

Efek daripada interaksi antar gelombang yang bertabrakan ini dapat memperkuat (Interferensi konstruktif) atau memperlemah (interferensi destruktif). Yang memperlemah dapat membuat sasaran seakan “hilang” dari layar radar, sementara yang memperkuat dapat membuat sasaran seakan-akan terlihat di atas atau dibawah.

Fenomena diatas adalah sudah dikenal lama di dunia pertahanan udara semenjak radar muncul dan menjadi “momok” bagi radar pertahanan udara yang harus menjejak sasaran yang terbang sangat rendah.

Pembaca yang jeli tentu sekarang dapat melihat alasan mengapa rudal jelajah itu selalu terbang NoE (Nap on Earth).

RCS (Radar Cross Section) relatif kecil

Topik ini sangat kontroversial dalam Pertahanan udara, namun ya pada umumnya, drone atau UAV militer itu cenderung memiliki RCS yang relatif kecil.

Pengantar singkat tentang RCS

RCS sendiri atau Radar Cross Section adalah ukuran energi yang dihamburkan oleh suatu benda ketika terkena gelombang radar. Hamburan ini terjadi ke segala arah seperti pada ilustrasi berikut.

Elimea Varda-RCS3D
RCS plot untuk sebuah rudal jelajah pada frekuensi 10 GHz (X-band) Drone juga dapat memiliki pola seperti diatas

Besaran RCS sendiri umumnya diukur dari sisi yang terpapar gelombang radar, satuan yang digunakan adalah satuan luas seperti meter persegi atau desibel/m persegi. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya RCS, tidak melulu drone saja melainkan semua objek adalah sbb :

  • Ukuran relatif benda terhadap frekuensi radar
  • Polarisasi gelombang radar
  • Aspek atau sudut pandang (depan, samping dsb)
  • Material pembuat benda tersebut
  • Kehalusan atau “kekasaran permukaan” benda
  • Bentuk benda pada umumnya

Semakin besar RCS suatu objek. Umumnya daya jangkau radar terhadapnya akan semakin besar.

Drone vs. Hanud

Drone atau UAV untuk tujuan operasi terhadap pertahanan udara dirancang umumnya memperhatikan paling tidak 2-3 aspek diatas untuk memperoleh RCS yang kecil. Misalnya drone Harpy atau Harop lalu Skystriker.

Galeri Produk Harop 825X515 03
IAI Harop diluncurkan dari sebuah truk

Dapat dilihat ia bukan hanya relatif kecil, namun bentuk dan material pembuatnya secara umum bersifat dielektrik atau bisa “ditembus” gelombang radar. Dengan demikian radar pertahanan udara tidak akan “mendapatkan” pantulan balik secara penuh.

Skystriker-1-1
Drone Skystriker yang dijatuhkan pertahanan udara Armenia -Sumber : https://www.facebook.com/arcrun/posts/3187004624668457

Untuk nilai pasti daripada RCS tentu akan sangat bervariasi mengingat faktor-faktor diatas, apalagi frekuensi. Adalah salah untuk membandingkan RCS drone yang “terlihat” dari Radar pertahanan udara yang frekuensinya S-band (3 GHz) dengan yang terlihat di X-band (10 Ghz).  Drone sendiri paling tidak akan dapat memiliki RCS setara rudal jelajah, dengan nilai 0.3 meter persegi pada frekuensi X-band (10 GHz).

Saturasi Hanud

peluncur drone
Peluncur Drone Cina untuk kontra Hanud

Teknik terakhir yang “ampuh” yaitu saturasi.  Semua bentuk pertahanan udara pasti memiliki keterbatasan dalam berapa sasaran yang dapat ia serang.  Drone atau UAV yang murah yang diluncurkan dalam jumlah besar, membidik kelemahan ini.

Pada illustrasi diatas terlihat alutsista militer baru dari negeri tirai bambu yaitu peluncur swarm drone. satu truk tersebut dapat membawa 48 Drone, kok banyak-banyak buat apa ? Ya tentu biar tembus pertahanan udara lawannya.  Tren yang sama dapat dilihat di belanja militer Azerbaijan versi SIPRI yang ditelusuri penulis.

Pihak Azerbaijan memanfaatkan drone dari pesawat AN-2 untuk “memancing” SA-8 menyerangnya. Kemudian setelah posisi penembakan diketahui, drone seperti Harop, Harpy dan Orbiter yang “mengorbit” disekitar Pesawat AN-2 akan turun dan menghajar situs pertahanan udara yang sedang sibuk memandu rudalnya ke AN-2.



Sumber Berita

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *